Banner Tiket Club

Senin, 29 April 2013

Menyusuri Kota Akihabara Tokyo

Entah berapa kali saya mengunjungi Akihabara Tokyo. Setiap saya mengunjungi Tokyo selalu menyempatkan diri jalan-jalan ke Akihabara, meski tidak selalu belanja. Memang Akihabara menjadi daya pikat tersendiri khususnya bagi pemburu barang-barang elektronik.

Toko yang menjual barang elektronik
Di sana bisa didapatkan juga lapak-lapak emper toko yang menjual pernak-pernik barang atau komponen elektronik.










Nah, kita lihat dari dekat kota Akihabara ini. Untuk mencapai ke sana bisa dengan mudah dengan naik kereta Yamanote Line dan turun di stasiun Akihabara.

Bagi anda yang mau mencari souvenir baik barang elektronik maupun pernak pernik Tokyo/Jepang bisa mengunjungi toko Laox. Di sana bisa mencari barang elektronik yang bisa dipakai di luar Jepang. Karena kalau beli di toko biasa, biasanya tegangan listriknya 100 Volt, tidak bisa dipakai pada tegangan 220 Volt seperti di Indonesia. Selain itu di toko Laox, tidak perlu bayar pajak konsumsi (5%) asal memperlihatkan passport. 
Lorong jalan menuju toko Laox



Jumat, 08 Februari 2013

Berburu Museum di Amsterdam - Bagian 2-

Berangkat dari rumah Rody Mulder

Pagi itu langit cerah, kondisi yang enak untuk jalan-jalan. Sekitar jam 9 saya bersama Rody meninggalkan rumahnya menuju Amsterdam tempat Rody bekerja. Dengan mobil sport Porche dengan kabin terbuka Rody membawaku ngebut di jalan toll menuju Amsterdam. Asyik juga naik mobil dengan kabin dibuka dan ngebut 150 km/jam. Kurang lebih 30 menit sampai di central station, lalu saya turun dan Rody melanjutkan perjalanannya ke tempat kerja.

Sebelum kemana-mana yang saya cari pertama kali adalah touris information untuk membeli amsterdam pass €33. Lumayan mahal menurut kantongku. Tapi dengan membawa kartu pass ini banyak keuntungan yang diperoleh seperti gratis masuk ke beberapa museum, gratis naik trem, dapat buku informasi touris dll.

Dengan berbekal buku dari Amsterdam pass tsb, saya mencari museum. Sambil melihat peta dari buku tsb saya menelusuri jalan-jalan di sekitar stasiun.  Agak rumit juga, karena penamaan jalan berbeda dengan di jerman. Di sini nama jalan ditulis ditempel digedung-gedung, sehingga harus celingukan mencari-cari plang nama jalan.

Sedikit cerita tentang central Station Amsterdam. Central station Amsterdam bentuknya seperti Hbf di Hamburg, berbentuk seperti setengah silinder, tapi lorong-lorongnnya tidak rapi. Di samping kiri dan kanannya banyak pekerjaan konstruksi sehingga mengganggu pemandangan.

Sebelum keluar saya mencari dulu locker penitipan barang. Setelah ketemu sekarang masalahnya bagaimana cara bayarnya karena harus bayar dengan kredit card, sedangkan saya waktu itu tidak punya. Akhirnya setelah lihat-lihat ternyata ada penjaganya yang mau meminjamkan kartu kreditnya dengan membayar €5. lalu saya simpan sebagian barang supaya tidak terlalu berat dibawa.
Dari sana saya mencari museum. Karena bingung mencari jalan, akhirnya muter-muter menghabiskan waktu nggak karuan.

Kepala Mummi
Tapi ada beberapa museum yang ketemu setelah beberapa menit berjalan. Museum pertama yang saya kunjungi Allan Pierson Museum Amsterdam. Di dalam nya berisi sejarah tentang Mesir kuno dan Romawi Kuno. Ada beberapa mummi dan patung yang dipajang. Cukup lama saya menghabiskan waktu di tempat ini.

Dari sini saya jalan kaki lagi ke amsterdam Historich Museum. Museum tentang sejarah berdirinya kota amsterdam. Di dalamnya banyak lukisan-lukisan yang menggambarkan amsterdam tempo dulu. Juga lukisan-lukisan dan lifestyle dengan kronologis dari jaman dulu hingga sekarang. Dari sini saya jalan kaki lagi ke Bibels Museum. Di dalamnya tersimpan naskah-naskah kuno tentang bibel, perjanjian lama dan baru yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Dari sini saya balik lagi naek trem ke central station, lalu berangkat lagi naik metro (subway) ke Waterooplein untuk mencari Dutch Resistance Museum, tapi diperjalanan ketemu Jood Historich Museum. Masuk museum ini sangat ketat, maklum milik orang yahudi. Pengunjung harus melewati detector logam seperti mau masuk pesawat. Di dalamnya mengambarkan tetang sejarah bangsa yahudi . ada juga miniatur komplek mesjidil Aqsa.
Miniatur Komplek Mesjidil Aqsa
Dari sini lalu melanjutkankan ke museum tujuan. Jalan cukup lama, akhirnya ketemu juga Dutch Resistance Museum walaupun waktunya 15 menit sebelum tutup. Museum ini menceritakan tentang sejarah belanda ketika jaman perang dunia II, waktu belanda diduduki oleh Nazi dan waktu belanda diserang tentara jepang di Indonesia. Ada dokumentasi film waktu jaman jepang, uang jaman jepang dan dokumen-dokumen propaganda Jepang. Sayang waktunya habis padahal ingin melihat film tentang pendudukan Jepang ini.

Brosur propaganda Jepang
Dari sini tadinya mau mengejar untuk melihat van Gogh Museum tapi bingung harus naik trem yang mana. Akhirnya pergi ke central station dulu. Tapi sampai di central station sudah hampir jam 6 padahal tutupnya jam 6. akhirnya tidak jadi berangkat lalu mencoba naik perahu kanal. Namanya Holland International canal Cruise. Naik dari kanal depan central station. Lumayan perjalanannya mengasyikan juga menyusuri kanal-kanal di dalam kota amsterdam kira-kira 1 jam.

KTP untuk orang asing jaman Jepang. 
Setelah istirahat sejenak dan melihat jam. Waduh sudah jam 7 sore (masih sore karena musim panas) padahal belum shalat Dhuhur dan Ashar. Setelah itu saya coba mencari mesjid yang alamatnya saya temukan di internet. Ketika berjalan menuju mesjid saya menyapa orang yang berbaju Arab, ternyata dia orang maroko dan dia menunjukkan jalan ke mesjid. Tapi ternyata mesjidnya ditutup.akhirnya saya balik lagi ke central station. Di dekat station saya belanja souvenir di toko soleh, sambil nanya barangkali penjaga toko tahu di mana mesjid terdekat dari sana. Dia menunjukkan mesjid yang ada di seberang stasiun, tapi nggak terlalu mengerti. Dari sini saya lihat-lihat barang-barang di toko suovenir yang lain. Ternyata toko-toko souvenir di Amsterdam kebanyakan orang keturunan Arab.

Kanal di Amsterdam
Karena masih ada waktu saya mencoba mencari mesjid di peta dari google yang ada di seberang sungai, tapi bingung cara menyeberangnya. Pas dilihat ke sungai ternyata banyak ferry angkutan penyeberangan. Setelah coba-coba dan sempet salah akhirnya bisa juga menyeberang ke tempat dekat mesjid. Waktu jalan menuju mesjid saya menyapa orang yang berbaju arab lagi dan ternyata orang Somalia dan dia menunjukkan mesjid. Di depan mesjid ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk. Saya bertanya bahwa saya mau shalat asyar. Lalu salah seorang membukakan kunci pintu mesjid. Ternyata disini kalau bukan waktu shalat mesjidnya dikunci. Di sana saya shalat dhuhur dan asyar jama kosor. Lalu setelah mengambil foto balik lagi ke central station. Setelah mengambil barang yang dititipkan di locker, saya naik metro ke amstel station untuk naik bus Eurolines. Setelah saya check in saya menunggu di tempat tunggu.
Kira-kira jam 11, bus jurusan Hamburg datang. Dan jam 11.15 penumpang sudah boleh masuk. Di dalam bis ketemu orang indonesia yang mau ke Kopenhagen. Namanya Dede dari bandung lulusan Senirupa ITB. Dia dapat tugas mengerjakan proyek dari perusahaannya di Jakarta. Kerjanya sebagai designer di perusahaan korea. Orangnya kecil seperti perempuan dan kebanci-bancian. Sebelum bis berangkat menuju Hamburg, bisnya mengisi penumpang di beberapa tempat. Pas bis masuk Jerman ternyata ada pemeriksaan Passport dari Imingrasi. Semua orang pasportnya diperiksa. Kira kira jam 6.30 bis sudah sampai di Hbf Hamburg.

Kesan di Amsterdam:
Kotanya cukup padat, di sana-sini ada pekerjaan konstruksi. Kendaraan tidak seramai Jakarta tapi sedikit semrawut karena bercampur baur dengan trem dan sepeda. Agak sedikit kotor bila dibanding dengan hamburg, di sana sini berserakan sampah. Di dalam trem panas, pengap karena tak ber-AC. Metro juga sama, panas, pengap dan ada berceceran sampah. Di sana sini banyak kanal. Dan di kanal ada beberapa rumah terapung. 

Sabtu, 17 November 2012

Kelilih Kota Brussel 1 Hari (Bagian 2)

Miniatur menara Pisa Italia

Di bagian 1 ceritanya sudah sampai di Mini Europe. Di bagian 2 ini saya akan teruskan cerita tentang Mini Europe dan perjalanan ke tempat yang lain.

Di sana dalam Mini Europe saya banyak mengambil foto miniatur bangunan-bangunan sampai jam 11.30. Dari sini saya balik lagi ke Grand Place. Sekarang tempat tsb sudah mulai ramai dengan  orang. Saya mengambil foto lagi di sekitarnya dan jalan ke pertokoan yang beratap kaca. Di sana banyak sekali orang, yang makan dan sekedar lihat-lihat. Terus saya jalan kaki ke arah katedral dan sempat masuk ke dalamnya. Di dalamnya ada beberapa jemaat yang sedang mendengarkan khutbah pendeta. Terus saya balik lagi ke Grand Place dan mengunjungi beberapa toko souvenir. 

Saya juga mengunjungi museum Maison du Roi, City museum di sekitar Grand Place. Tiket masuknya €3, dan di dalamnya banyak lukisan dan dokumen tentang sejarah kota Brussel. Di sana juga tersimpan koleksi baju patung Mennaken Pis yang pernah dipakaikan. Misalnya ada baju samurai dari Jepang yang dipakaikan tahun 1935. sedangkan baju dari Indonesia sepertinya belum pernah dipakaikan.
Mesjid di Brussel

Karena hari sudah siang saya mau mencari Great Mosque yang menurut peta yang saya print dari Google dekat dengan museum militer. Tapi museum militernya masih belum jelas alamatnya di mana. Setelah melihat peta gratis yang dikasih biro travel di Grand Place ternyata museum militer ada di dekat museum yang tadi pagi dikunjungi dekat gedung European Commision. Akhirnya saya balik lagi ke stasiun schuman dan pergi ke museum militer sambil mencari mesjid yang dituju.

Ternyata museumnya tutup, lalu saya putari sekitar tempat tsb untuk mencari mesjid. Akhirnya setelah jalan beberapa menit mesjidnya ketemu juga. Tempatnya sangat stategis, dekat dengan gedung European Commision dan dekat dengan museum militer. Setelah shalat dhuhur dan asyar saya berangkat lagi untuk melihat Gereja Basiliekvoorplein dekat stasiun Simonis. 

Gereja Basiliekvoorplein
Dari stasiun lumayan harus jalan agak jauh melewati taman. Di taman tersebut ternyata banyak perempuan Arab yang sedang bermain dengan anak-anaknya.
Di sekitar gereja tersebut juga banyak perempuan Arab yang sedang mengasuh anaknya.

Karena sudah cape, dari gereja ini saya balik lagi ke stasiun naik trem. Untuk sekedar ganjal perut, di stasiun Simonis ini saya membeli hamburger di restoran halal turki 2 buah. Lalu saya melanjutkan ke Park. Di sini saya melihat Place Royale, Petit Sablon, Gereja St. Maria dan gereja dekat Petit Sablon. Karena masih ada waktu, dari sini saya balik lagi ke Grand Place. Di Grand Place ini saya habiskan waktu untuk menunggu berangkat Bis jam 23.15. Di Grand place ini sore-sore rame sekali, banyak orang yang sekedar duduk-duduk. Dan ada beberapa kelompok lawakan yang mempertunjukkan pertunjukan konyol.

Grand Placemenjelang sore
Di sini saya menunggu sampai jam 10 malam, kemudian kembali ke Nordstation untuk persiapan berangkat pulang naik Eurolines. Jam 23.15 sudah diperbolehkan masuk ke bis. Warna bisnya berbeda dengan biasa dan tempat kakinya lebih lapang sehingga bisa selonjoran kaki. Bis berangkat jam 24 dan datang di Hbf Hamburg jam 6 pagi. Saya datang ke rumah kost jam 6.30 pagi.

Rabu, 31 Oktober 2012

Kelilih Kota Brussel 1 Hari (Bagian 1)


Patung Mennaken Pis
Bis Eurolines telah sampai di Nord station Brussel. Saya langsung menuju tempat naik kereta. Pertama yang saya lakukan setelah sampai di Brussel adalah mencari kereta ke Grand Place. Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu tempat pembelian karcis otomatis dan saya beli karcis untuk satu hari seharga €4. Lalu saya mencari Metro (kereta bawah tanah) dan ternyata yang ada hanya trem. Akhirnya saya mencoba naik trem ke stasiun Bourse. Tremnya mirip dengan di Amsterdam. 

Di Bourse karena masih pagi, saya coba untuk melihat ke grand place dengan berjalan kali karena tidak jauh dari stasiun. Jalan masih sepi, halaman Grand Place sedang dibersihkan dari sampah oleh petugas kebersihan. Saya coba juga melihat rute ke Mennaken Pis, patung anak kecil yang sedang pipis, dan ketemu. Terus jalan lagi kembali lagi ke stasiun. Di stasiun saya mencari toilet tapi masih ditutup. Setelah beberapa menit menunggu di stasiun saya mencoba pergi ke Central stasiun. Barangkali di central stasiun pertokoan sudah buka dan bisa melihat-lihat informasi. Ternyata central stasiunnya tidak terlalu besar.

Dari central stasiun saya ke stasiun Schuman untuk melihat gedung European Commission dan melihat museum, karena menurut peta, tidak terlalu jauh dari gedung European Commission ada museum yang cukup besar. Jalan ke museum cukup jauh juga. Di depan museum tsb halamannya cukup luas dan asri. Sambil istirahat dan makan roti saya duduk di kursi taman. Ternyata museumnya masih tutup karena masih jam 9.30 dan buka jam 10.
Lalu dari sana saya ke Atomium ( bangunan yang berbentuk molekul) naik jalur 1A. 

Atomium
Di Atomium sudah hampir jam 10 dan sudah ada orang-orang yang mau masuk ke tempat itu. Saya coba untuk melihat berapa tarif masuknya, dan ternyata harga karcis masuknya €9. Tetapi karena beli karcisnya harus antri dan untuk masuknya juga harus nunggu antrian panjang, saya pikir ini pemborosan waktu, akhirnya tidak jadi beli karcis. Saya hanya mengambil foto dari luar. Waktu  ngambil foto saya ketemu wisatawan dari Indonesia dengan keluarganya. Saya minfa difotokan oleh mereka.

Dari Atomium saya menuju Mini Europe yang terletak di samping Atomium. Karena ingin tahu saya memaksakan beli tiket masuk padahal tarifnya cukup mahal €12. Di dalamnya bisa melihat lihat miniatur bangunan bangunan terkenal yang ada di beberapa anggota Uni Eropa. Waktu masuk ke dalam langsung dicegat oleh tukang foto dan disuruh untuk berfose ria, dan jepret-jepret …. bidikan foto diarahkan ke saya. Kata tukang fotonya tidak ada kewajiban untuk membeli fotonya. 

Nah,bagiamana kisah selanjutnya ikuti Keliling Kota Brussel bagian 2

Sabtu, 22 September 2012

Pulau Helgoland dari Dekat



Pulau Helgoland adalah pulau kecil dengan luas sekitar 1 km persegi terletak di Samudra Atlantik yang masuk ke wilayah Jerman. Luasnya hanya 1,7 km2 dan jumlah penduduknya 1.131 orang. Terletak sekitar 46 km dari daratan Jerman.

Dari kota Hamburg saya naik kereta beberapa jam sampai kota Büsum, dari kota Busum ini naik kapal ferry Lady von Büsum sampai pulau Helgoland. 




Saung tempat melihat pemandangan laut kota Busum

Sekitar jam 930 naik ferry. Penumpangnnya nggak penuh. Langit mendung. Mula-mula gelombang nggak terlalu besar, tapi makin ke tengah makin besar gelombangnya. Karena minum obat anti mabok saya  ketiduran. 

Tempat naik kapal ferry




Kurang lebih jam 12 pulau Helgoland sudah kelihatan. Karena ferry tidak bisa merapat, penumpang diturunkan di lepas pantai disambung dengan perahu kecil. Asyik juga bisa menikmati gelombang laut Atlantik. Setelah sampai di pantai lalu pergi ke AWI (Alfred Wegener Institute), lembaga penelitian kelautan. 
Di sana dijelaskan tentang lobster dan kepiting. Setelah itu saya lihat-lihat toko yang jual minyak wangi barangkali ada yang murah, tapi ternyata harganya mahal-mahal. Meskipun di pulau ini tax free, tapi harga dirasa masih mahal, saya mengurungkan niat untuk beli minyak wangi. Akhirnya hanya beli postcard 2 lembar. 

Sebenarnya di pulau ini tidak ada tempat yang istimewa. Memang ada pantai yang bisa untuk berenang bila musim panas.

Lalu jam 330 kembali lagi ke tempat naik ferry. Dan lagi-lagi perjalanan panjang kembali ke Büsum. Setelah sampai di Büsum langsung mengejar kereta ke Hamburg. 




Danau Hakone yang Bening

Danau Hakone yang terletak di propinsi Kanagawa Jepang merupakan daerah wisata terkenal yang tidak terlalu jauh dari pusat kota Tokyo. Kalau akses dari Tokyo bisa naik dari stasiun Tokyo  dengan Shinkansen KODAMA turun di stasiun Odawara dengan tarif 3.130 Yen disambung dengan bis  sampai Togendai dengan tarif 1.200 Yen.

Saya sendiri menuju Hakone menggunakan mobil dari Susono City yang ditempuh hanya beberapa puluh menit.  Setelah parkit mobil saya turun ke bawah mendekati danau.
Airnya biru dengan pemandangan gunung Fuji yang puncaknya putih menambah kontrasnya pemandangan.
Setelah menikmati pemandangan di sekitar danau dan membuka bungkusan makan siang yang di bawah dari rumah, saya mencoba untuk nail rope way (kereta kabel)  yang membentang dari danau membelah pegunungan sekitar danau.
Di terminal Oowakudani Hakone

Rope way ini terdari dari 4 terminal/pemberhentian yaitu Togendai, Ubako, Oowakudani dan Souunzan. Sedangkan yang paling tinggi adalah terminal Oowakudani. Karena tujuannya ingin melihat dari ketinggian saya membeli tiket bolak-balik untuk ke Oowakudani. Untuk naik rope way ini harus mengantri cukup lama.

Di terminal Oowakudani saya turun dan melihat-lihat pemandangan. Gunung Fuji bisa dilihat dengan jelas.



Minggu, 02 September 2012

Landungsbrüchen, pelabuhan besar di Hamburg

Tempat naik kapal ferry
Meskipun jauh dari laut, kota Hamburg mempunyai pelabuhan besar dan termasuk besar di Eropa. Pelabuhan tersebut terdapat di sungai Elbe, sungai besar yang membelah negara Jerman.

Landungsbrüchen merupakan nama tempat yang sering saya singgahi untuk sekedar melihat-lihat suasana pelabuhan dengan menumpang kapal Ferry.
Bangunan khas Eropa tepi sungai

Dari kapal ferry ini saya bisa memandang ke daratan untuk melihat pemandangan bagunan khas Eropa yang antik. 
Kapal ferry yang saya tumpangi berukuran tidak terlalu besar, berlantai 2 dengan lantai 2 tanpa atap, pas untuk melihat-lihat pemandangan keluar. Bisa memuat sekitar 50-100 orang. Kendaraan yang diperbolehkan masuk hanya sepeda. Kapal ferry ini sebenarnya angkutan penghubung dari stasiun Landungsbrüchen ke beberapa tempat di pelabuhan. Makanya tiket masuknya pun bisa satu paket dengan tiket kereta. Misalnya lokasi fiscmarkt bisa dicapai dengan menggunakan kapal ferry ini.
Kapal Ferry